Perubahan sistem, betapapun kecilnya, pasti akan menimbulkan dampak tertentu. Begitu pun perubahan standar kelulusan siswa yang baru dicanangkan pemerintah. Ketidaksiapan sebagian murid dalam menyikapi perubahan ini, dapat melahirkan rasa tidak percaya diri, bahkan keputusasaan yang berakhir dengan bunuh diri. Terutama bagi mereka yang tidak lulus.

Sekarang, timbul pertanyaan, apakah dampak ini muncul seketika karena adanya perubahan system? Ataukah akumulasi dari kesalahan system yang sudah berlangsung lama?

Saya ingat ketika masih bermukim di Amerika Serikat. Anak kami pernah sekolah di Dame School. Di sama, seluruh murid SD dari kelas 1-3, tidak boleh diberikan nilai angka atau huruf pada rapornya, tetapi hanya uraian consistent and not consistent saja. Saya pernah menanyakan masalah ini kepada guru anak kami, karena terbiasa di Indonesia, rapor anak sekolah diisi dengan angka, bahkan diberi peringkat (rangking). Kami heran alih-alih diberikan rangking, nilai saja kami tidak tahu. Alasan yang diberikan guru adalah, kalau seorang anak usia di bawah 9 tahun diberikan nilai (baik atau buruk), maka akan “memvonis” anak; pintar, sedang atau bodoh. Padahal pada usia tersebut kemampuan anak masih terus berkembang. Baru nanti ketika anak sudah kelas 4 SD, nilai mulai diberikan, tetapi mereka tetap tidak memberikan rangking.

Hasil kerja harian murid-murid cukup diberikan gambar sticker (bintang, bunga, mobil) dan tulisan gurunya yang berbunyi good atau good effort. Ternyata dengan cara ini anak-anak menjadi bersemangat untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, karena setelah selesai, guru akan menempelkan sticker di lembaran bukunya. Dalam memeriksa hasil kerjanya, guru tidak mencoret hasil kerja anak yang salah, tetapi dengan membetulkannya di samping hasil kerja anak yang salah.

Murid-murid didorong untuk aktif berdiskusi. Guru pun selalu memberikan komentar positif kepada setiap pendapat yang dilontarkan anak. Dengan cara seperti ini, mereka lebih semangat masuk sekolah. Bahkan anak kami sering bersikeras untuk tetap sekolah walaupun suhu badannya panas tinggi.

Suatu ketika anak kami kelihatan pucat dan tidak mau makan pagi, tetapi ingin cepat-cepat mandi untuk berangkat sekolah. Saya melarang dia bersekolah karena suhu badannya tinggi. Dia menangis dan bersikeras untuk masuk sekolah sambil berkata, “I feel okay, I’m not sick, Mama” (Saya baik-baik saja, saya tidak sakit, Bu!).

Libur panjang sekolah, justru menjadi saat membosankan bagi anak kami. Sebaliknya, berada di sekolah menjadi saat-saat yang menyenangkan. Anak kami begitu mencintai sekolahnya, karena guru-gurunya berhasil menciptakan suasana menyenangkan yang membuat anak antusias belajar. Kalau anak senang hatinya, maka otak bagian limbiknya akan terbuka, sehingga anak dengan mudah menyerap pelajaran yang diberikan. Bayangkan kalau anak diajar oleh guru yang galak, jarang memberikan pujian, malah banyak mengkritik dan memarahi.

Jangan Permalukan Anak

Salah satu factor penyebab anak tidak percaya diri adalah ketika di kelas dia tidak dapat menjawab pertanyaan. Juga, saat dia diminta maju ke depan untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Banyak guru yang bersikap negatif ketika mendapati muridnya tidak bisa menjawab soal. Misalnya dengan berkata, “Itu salah, kamu tidak belajar ya?”. “Lihat anak-anak, betul tidak jawaban si Anu?”. Seharusnya guru berkata, “Jawabannya belum lengkap, mungkin ada jawaban lain?”. Atau, “Caranya sudah hampir benar, tetapi coba kamu ulangi lagi, mungkin ada bagian yang kamu lupakan”.

Seringkali guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita semua pasti pernah melihat atau memiliki pengalaman seperti itu. Sekali anak dipermalukan, dia akan takut dan gemetaran ketika harus menjawab pertanyaan gurunya. Akhirnya, dia tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di muka kelas.

Ditambah lagi sejak kecil anak sudah divonis dengan rangking (dari 1 sampai 40, bergantung jumlah murid di kelas). Atau dengan menerapkan istilah “mendapat rangking (sepuluh besar)” atau “tidak mendapat rangking”. Berhubung hanya segelintir anak yang masuk rangking, maka sebagian besar anak sudah divonis bodoh sejak kecil. Apalagi kalau sering dihukum dan dikritik gurunya, anak-anak kita akan menjadi orang-orang yang tidak pede, minder atau malas belajar dan memperbaiki diri.

Sikap seperti ini bukan kesalahan guru semata (khususnya guru SD). Namun, kesalahan system pendidikan yang orientasinya hanya mengejar keberhasilan akademik, mengejar target kurikulum dengan segenap jadwal tes harian, ulangan umum dan ujian akhir.

Padahal, untuk anak-anak usia dini, yang terpenting ditanamkan adalah sikap cinta belajar. Bukan karena semata-mata harus bisa, karena kalau harus bisa (dengan mengadakan ulangan atau tes), suasana belajar jadi menegangkan. Hal ini akan membuat otak limbic tertutup. Bila demikian, anak tidak akan mampu mencapai potensi optimalnya.

Selain sikap yang membuat anak minder, ada pula guru yang tidak peduli dengan pembentukan moral anak didiknya. Mereka tidak pernah memberikan arahan atau nasihat mengenai moral atau budi pekerti, baik di depan kelas atau tatap muka empat mata dengan murid. Ibaratnya mereka bekerja secara mekanik, seperti robot yang mengoperasikan “mesin” kurikulum, dan memberikan angka-angka sebagai hasil pembelajaran.

Di sinilah pentingnya seorang guru memiliki sikap (attitude) yang dapat menciptakan suasana “joyfull learning” (suasana belajar menyenangkan), dicintai dan menjadi panutan murid-muridnya. Tertantangkah anda?

Dr. Ratna Megawangi, pendiri Indonesia Heritage Foundation