Saya dulu bukanlah pelajar teladan, bukan juara kelas juga. Rangking saya biasa-biasa saja. Tapi entah kenapa dengan beberapa guru yang terkenal disiplin dan keras, nilai saya lumayan bagus. Karena saya tertantang oleh mereka. Mereka biasanya punya banyak cerita hidup yang sering mereka ceritakan di kelas tentang kenapa mereka ingin kami belajar dengan giat dan juga punya disiplin yang tinggi. Tapi biasanya guru model seperti ini tidak disukai banyak murid. Bahkan suka disebut guru killer.

 

Saya juga mungkin pernah membenci mereka, karena mereka selalu memberi PR yang banyak dan tugas-tugas yang sulit. Selain itu juga menuntut kita untuk disiplin, sopan, dll. Mereka juga biasanya paling ketat dalam mengawasi ujian dan jika ada yang ketahuan nyontek pasti akan naas nasibnya.

 

Tetapi sekarang, setelah saya terjun ke masyarakat dan dunia kerja (atau dunia nyata), saya baru menyadari bahwa diri saya sekarang ini adalah bentukan dari mereka. Diri saya saat ini adalah hasil dari kerja keras mereka dulu. Disiplin saya, etika saya dalam bergaul, mental kerja keras saya, itu semua saya dapatkan dari beberapa guru ini.

 

Salah satu contoh adalah dosen saya Bapak Plato Siregar dari jurusan Meteorologi ITB. Dulu beliau sering disebut dosen gila, karena di kuliah praktikum beliau, kami harus pulang jam 3 pagi setiap minggunya. Mulai jam 3 sore, pulang jam 3 pagi dan paginya harus presentasi jam 7.30. Selama 1 semester disiksa hidup-hidup. Beliau memiliki karakter yang keras, tapi yang menarik adalah, beliau menjadi baik kepada mahasiswa yang bisa “tetap hidup” di dalam sistem beliau ini.

 

Tanpa saya sadari pengalaman inilah yang menjadi pengalaman paling mahal selama saya kuliah 5 tahun di ITB. Karena pengalaman ini membuat saya terbiasa untuk bekerja lebih keras dan kurang tidur. Membuat saya belajar menikmati bekerja dengan keras. Sekarang saya baru bisa merasakan buah manis dari pengalaman pahit 1 semester ini.

Saya harus berterima kasih kepada beberapa guru lain atas kerja keras mereka dalam mendidik saya, begitu juga kesabaran mereka dalam menghadapi saya. Karena usaha mereka inilah saya bisa mengejar cita-cita saya dan keluarga. Beberapa guru yang saya kenang adalah Pak Darnel Wahid (Bhs Indonesia – SMP Cendana Duri), Pak Saprijon Tanjung (Bhs Indonesia – SMP Cendana Duri), Ibu Wiz (Biologi – SMP Cendana Duri), Ibu Vety (Matematika – SMAN 1 Bandung), dan Guru Akuntansi SMAN 1 Bandung yg saya lupa namanya.

Kalau saya tidak Didik oleh mereka saya gak tahu deh jadi apa hidup saya sekarang. Tetapi sekarang saya jadi sedih baca cerita guru-guru yang menganjurkan anak-anak didik mereka untuk menyontek di ujian nasional. Bahkan membagi-bagi kunci jawaban. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh guru-guru ini. Mungkin mereka berfikir bahwa mereka telah menolong anak didiknya untuk melewati Ujian Nasional. Tapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah menghancurkan masa depan anak didik mereka sendiri.

Akan jadi orang seperti apa anak-anak ini yang demi hanya lulus ujian menghalalkan segala cara. Karakter seperti apa yang akan dimiliki anak-anak ini saat mereka dewasa nanti? Apakah mereka akan menghalalkan segala cara juga saat mereka mencari uang? Apakah mereka juga akan menghalalkan segala cara agar dapat promosi? Apakah akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dalam usaha walaupun itu menghancurkan hidup orang banyak? Kasus Lapindo misalnya dan kasus-kasus lain di negeri ini.

Mungkin guru-guru ini berhasil mendapatkan kesuksesan sesaat pada hari pengumuman ujian nasional, tetapi saya tidak tahu apa jadinya negeri ini 20 tahun dari sekarang saat dipegang oleh generasi didikan para guru-guru yang menganjurkan dan memberi kunci jawaban ini.

Saya mendukung inisiatif yang dilakukan oleh anak-anak ini bahwa betapa sulitnya cobaan atau tantangan tetap harus dihadapi dengan cara yang benar, baik dan juga fair. Dengan terbiasa menghadapi tantangan-tantangan yang sulit, anak-anak ini akan menjadi pribadi yang tangguh, kuat, cerdas mencari solusi dan bisa menjadi pemimpin yang dapat membawa negeri ini keluar dari kehancuran.

Mari kita dukung mereka di alamat website ini :  http://www.facebook.com/groups/mantep.gan/