Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Tentunya ini memerlukan usaha yang menyeluruh yang dilakukan oleh semua pihak; keluarga, sekolah, dan seluruh komponen yang terdapat dalam masyarakat, seperti lembaga keagamaan (mesjid, gereja, dan sebagainya), perkumpulan olahraga, komunitas bisnis, dan lainnya.

Ibaratnya sebuah pohon yang masih kecil yang mempunyai potensi menjadi pohon besar, merawatnya dengan kasih saying adalah sangat diperlukan. Ketika pohon sedang tumbuh di sekelilingnya pasti akan tumbuh rumput-rumput gulma yang akan mengganggu pohon tersebut untuk menjadi kokoh. Bahkan pertumbuhan gulma akan lebih cepat dan lebih mudah tumbuh besar dibandingkan pohon tersebut. Kita sebagai tukang kebun yang merawatnya, harus terus membersihkan gulma tersebut, mencabutnya ketika gulma itu masih kecil. Apabila tidak, pohon yang sedang kita rawat akan tumbuh kerdil dan tidak dapat menjadi pohon kokoh yang kita inginkan.

Begitupula pada manusia, anak-anak dengan fitrahnya yang bersih, namun dalam proses tumbuh kembangnya pasti akan dikelilingi oleh gulma-gulma (sifat-sifat buruk) yang berusaha tumbuh menyaingi pertumbuhan fitrah tersebut. Sebagai “perawat kebun” tentunya kita harus waspada dengan hal ini. Maka sejak usia dini anak harus dirawat dan dididik dengan nilai-nilai yang akan menyuburkan fitrah (kesucian manusia) untuk tumbuh kokoh.

Menurut Ibnu Jazzar Al-Qairawani, “Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat-sifat tersebut terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Banyak sekali orang dewasa yang menyadari sifat-sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya. Karena sifat-sifat buruk itu sudah kuat mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Maka berbahagialah para orang tua yang selalu memperingatkan dan mencegah anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa depan”.

Pendidikan moral pada usia dini harus dilakukan sejak anak dilahirkan, dan pada usia di bawah 2 tahun dapat dilakukan hanya dengan memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak. Menurut Thomas Lickona, “Love lights the lamp of human development. If we wish to raise good children, we should begin by giving them our love”. Ibaratnya sebuah bejana kosong, kalau diisi air “cinta dan kasih sayang” maka bejana tersebut hanya berisi air kesucian. Ketika anak dewasa, bejana (hati) ini hanya akan menebarkan kesucian dan kebajikan dalam perjalanan hidupnya. Apabila yang diterima adalah umpatan, dan contoh-contoh yang buruk, maka sifat-sifat seperti inilah yang akan disebarkan dalam perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, orang tua (khususnya ibu) perlu sekali untuk mencium, memberikan kata-kata manis, dan mendendangkan cinta kepada bayi-bayi mereka.

Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Menurut hasil penelitian, anak-anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan nilai-nilai moral, bahkan mereka sudah dapat mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orag lain. Misalnya, ketika ia melihat raut wajah ibunya yang sedih, ia dapat mengekspresikan empatinya. Dikatakan bahwa rasa empati adalah sifat alami yang sudah ada sejak anak dilahirkan yang merupakan sumber dari moralitas individu, seperti rasa iba dan rasa ingin berbuat baik, termasuk perasaan bersalah dan malu kalau melakukan hal-hal yang tidak baik. Sedangkan bagaimana empati dapat terus tumbuh subur adalah tergantung dari emotional bonding dengan ibunya pada usia-usia awal kehidupan seorang anak.

Seorang anak yang siap untuk masuk usia sekolah menurut Giligan harus sudah dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa bersalah, rasa malu, perasaan disakiti, bangga, dan sebagainya. Anak-anak pada usia pra-sekolah harus sudah dapat membedakan beberapa jenis emosi yang dirasakannya, sehingga mereka tidak menjadi bingung tentang nilai-nilai dari emosi yang dirasakan oleh mereka. Misalnya, seorang anak yang merasa iba kepada seorang anak yang dikucilkan, sedangkan seluruh kawan-kawannya mengejek anak tersebut. Anak tersebut akan mempunyai rasa ambivalen antara rasa empati dan rasa takut untuk dikatakan pengecut karena tidak mau terlibat untuk turut mengejek anak yang dikucilkan tersebut. Anak harus tahu bahwa merasa empati kepada anak yang dikucilkan adalah perasaan yang lebih baik yang harus diikuti.

Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah, terutama pada usia TK dan SD, juga perlu dilakukan, tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan umur anak. Hal ini berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila yang selaim ini dilakukan yang hanya menyentuh aspek akademik (hafalan dan pengetahuan saja), tetapi tidak melibatkan aspek emosi (feeling) dan perilaku (acting).

Dr. Ratna Megawangi, pendiri Indonesia Heritage Foundation